• Home
  • Catatan
  • Fiksi
  • jalan-jalan
  • Resume
  • Projects
  • About

Journal

Author Archives:

Trip Singkat Jogja – Bandung

30 Thursday May 2013

Posted by maulanadanny in jalan-jalan

≈ Leave a Comment

Tags

indonesia, Jakarta, jogjakarta, kereta api, train, Travel, yogyakarta


Ini adalah trip paling singkat yang pernah saya alami sepanjang hidup. Begini ceritanya…

Awal minggu kemarin saya ketemu teman baru asal Prancis, Hugo namanya. Dia seorang freelance videografer yang sedang trip ke Indonesia untuk membuat dokumenter lingkungan dan budaya. Karena saya punya latar belakang yang sama dengan dia, kami cepat akrab dan bertukar informasi. Salah satunya adalah tentang perayaan keagamaan Waisak di Magelang tanggal 24-25 mei 2013.

Dia tertarik untuk medokumentasikan perayaan yang secara visual sungguh unik dan menarik. Saya pun memang berencana kesana dengan Cindy.

Singkat cerita, Hugo pergi sendiri dengan rabu malam dengan bus Safari. Saya akhirnya menyusul keesokan paginya. Niatnya numpang kereta ekonomi ac Gajah Wong, karena telat bangun akhirnya berhasil mengejar jadwal kereta bisnis Fajar Utama Pagi di stasiun Senen. Sayangnya Cindy tak bisa ikut karena harus tugas minggu pagi dan tiket pesawat di hari itu sangat tidak wajar harganya.

Tidak ada yang menarik selama 8 jam perjalanan di Kereta. Tiba di jogja pun langsung menginap di kawasan Sosrowijayan dan mendapat kamar seharga 70 ribu rupiah semalam. Hanya kasur dan kipas angin. Kamar mandi pun diluar. Tak apalah tak ada tv, ngga akan ditonton juga.

Namun, pukul 4 sore saya dapat email dari Hugo. Dia dapat musibah, seluruh barangnya termasuk laptop, kamera dan passportnya hilang dicuri orang saat sedang tertidur di bus. Terpaksa ia harus kembali ke Jakarta untuk melapor di kedutaan Prancis.

Jogjakarta

Tiket Kereta Fajar Utama Pagi
Stasiun Notog (entah dimana ini)
Sawah persis depan stasiun Notog
Simbok dan Gerobak nasi kucing
Ontel Tua
Malioboro
Stasiun Tugu, Jogjakarta
Istirahat Sejenak
Jajanan random
Stasiun Bandung

Tanpa itinerary, sendirian di Jogja adalah ide yang buruk. Menurut saya, Jogja sama halnya dengan Bandung adalah kota belanja. Untuk wisata alam letaknya berjauhan. Sialnya saya pun datang lebih cepat. Teman-teman yang lain baru datang jumat sore sedangkan acara waisaknya pun baru dimulai sabtu pagi.

Dari pada kelimpungan seharian di Jogja, hari jumat pagi saya memutuskan untuk pulang ke Bandung. Kampung halaman yang sudah hampir satu tahun tidak pernah saya singgahi lagi.

Here we go again, 9 jam ke Bandung menggunakan kereta Lodaya Pagi. Dan akhirnya cuti pun berakhir di hari rabu dengan beberapa foto yang sempat saya ambil pakai kamera hape saja.

Bandung

Lokomotif di Pintu Selatan Stasiun Bandung
Hari yang cerah untuk jalan-jalan
Hydrant tua di pinggir jalan
Bandung cerah sekali
Epic
Musium Pos
Musium Pos
Musium Pos
Gedung Sate di halaman depan
Lampu taman di sudut gedung
Gedung sate di halaman belakang
Gedung sate di halaman belakang
Jembatan Suropati

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wajah Indonesia dibalik filter Instagram

09 Tuesday Apr 2013

Posted by maulanadanny in jalan-jalan, Catatan

≈ Leave a Comment

Tags

android, aplikasi, app, bali, Bandung, cerah, filter, halmahera barat, indonesia timur, instagram, iphone, jailolo, Jakarta, jalan-jalan, langit biru, laut, liburan, Lombok, maluku utara, Pantai, photo, photo editing, ternate, udara


Saat instagram dirilis bulan oktober 2010, tidak ada yang menyangka dalam waktu dua bulan saja satu juta pengguna iphone langsung mengunduh aplikasi tersebut. Bagaimana tidak? aplikasi ini seperti cawan suci para penggila fotografi. Produk yang diciptakan oleh Kevin Systrom dan Mike Krieger begitu mudah digunakan. Tinggal jepret, tambahkan filter jadul yang menambah suasana sentimentil, lalu share ke facebook dan twitter.

Instagram cukup beruntung dirilis saat trend smartphone bergeser dari kecanggihan hardware menjadi kecanggihan operating system dan mudahnya akses internet dimana-mana.

Saya sudah mengunduh instagram sejak awal 2011. Sejak itu pula rasanya mata selalu gatal mencari subjek foto untuk kemudian diberi filter dan di share di media sosial.

Beruntung kerja di stasiun tv swasta di Jakarta memberi saya banyak peluang untuk mencari subjek foto di berbagai sudut Indonesia. Inilah beberapa foto yang saya shot dengan DSLR atau iPhone dan diberi filter instagram.

Jakarta

Jakarta selalu menarik untuk diceritakan. Wajah ibukota yang terkenal super macet, panas, selalu ada demo dan dihuni penduduk yang tempramental ternyata bisa berubah 180 derajat jika hari libur tiba. Dan percayalah, selalu ada subjek menarik untuk di foto disetiap sudutnya.

Kebun Binatang Ragunan, Jakarta
Bajaj
Jl. Gatot Subroto, Jaksel
Orang Utan, Kebun Binatang Ragunan, Jakarta
Gorilla, Kebun Binatang Ragunan, Jakarta
Bandara Soekarno Hatta
Bandara Soekarno Hatta
Masjid DPR/MPR-RI, Jakarta
Kepulauan Seribu
Dermaga Muara Angke, Jakarta
Dermaga Muara Angke, Jakarta
Senayan City, Jakarta
Ratu Plaza, Jakarta

 

Bandung

Beda dengan Jakarta, kota Bandung adalah sebuah fenomena. Kota yang berada diketinggian 768 meter diatas permukaan laut ini selain terkenal dengan tempat berlabuhnya para calon intelektual karena begitu banyaknya kampus negeri dan swasta berkualitas. Juga kini menjadi kota factory outlet.

Sejak tol Cipularang dibuka, hampir setiap akhir pekan kota Bandung dipenuhi kendaraan plat B. Semua datang untuk berlibur disini. Dari wisata alam, sebagian besar dari wisatawan yang datang ke Bandung ingin menikmati kuliner dan puas belanja di factory outlet.

 

Bali dan Lombok

Siapa sih yang tidak tahu pulau Bali dan pulau Lombok? Semua orang selalu ingin liburan kesana. Selain pantainya yang luar biasa cantik dan bersih, udaranya juga cerah sepanjang tahun. Bahkan ada satu slogan “Di Bali, setiap hari adalah hari libur.”

Jargon yang tepat karena atmosfernya sungguh menyenangkan. Orang yang selalu tegang, stres dan arogan di Jakarta ketika datang ke kedua pulau ini bisa jadi hidupnya lebih santai dan bahagia. Setidaknya hal itu terbukti pada saya :)

 

Ternate dan Jailolo

Indonesia timur selalu menjadi tempat menyenangkan untuk dikunjungi. Sama halnya saat saya datang ke Ternate dan teluk Jailolo di halmahera barat. Cuaca yang cerah dengan langit biru dan lautan yang tenang khas Indonesia Timur. Penduduk disini hidupnya lebih santai, tenang dan sangat ramah dengan pendatang.

Tujuh hari di Halmahera Barat rasanya kurang mengingat tempat wisata khususnya banyak banget. Jika anda suka selam, disinilah tempatnya. Maluku Utara termasuk didalamnya Ternate dan Halmahera masuk dalam segitiga terumbu karang dunia yang terbentang dari Pulau Galapagos, Philipina hingga pulau Bali loh!

Nah jika ke Ternate, jangan lupa datang ke tempat pedagang besi putih. Disini banyak kerajinan tangan dari besi putih yang konon materialnya diambil dari kendaraan milik tentara sekutu yang terbengkalai seperti mobil jeep, pesawat tempur hingga kapal. Bahkan beberapa pedagang ada yang berjualan dogtag milik tentara sekutu yang tewas saat perang dunia kedua lalu.

Jelang Sore di Kota Tua

08 Monday Apr 2013

Posted by maulanadanny in jalan-jalan

≈ 2 Comments

Tags

belanda, holiday, jalan-jalan, kawasan kota tua, kolonial, kota tua, lapangan fatahillah, liburan, museum bank indonesia, museum fatahillah, museum mandiri, penjajah, penjajahan, sepeda kumbang, sunda kelapa, voc


Bagi warga Jakarta dan sekitarnya, akhir pekan adalah saat yang ditunggu dan saat yang membingungkan. Bayangkan saja, lima hari dalam satu minggu melihat brutalnya kemacetan dimana-mana. Saat akhir pekan, mayoritas para penghuninya malah mencari kemacetan lagi di Bandung.

Wajar sih orang Jakarta datang ke Bandung. Bayangkan saja, dari 661,22 km persegi luas Jakarta. Hampir tiga per empatnya terisi oleh 170 mall. Tiap hari lihat mall. Tiap hari datang ke mall. Masa akhir pekan jalan-jalan ke mall lagi?

Museum Fatahillah

Museum Fatahillah

Nah, Jakarta juga punya tempat liburan selain mall. Ada kebun binatang Ragunan, ada Taman Mini Indonesia Indah, ada Monas, ada Ancol, dan ada Kota Tua.

Kawasan Kota Tua yang jaman penjajahan dulu menjadi markas VOC atau rumah dagang Belanda, kini menjadi tempat liburan favorit warga Jakarta. Di kawasan Kota Tua, kita bisa nostalgia di museum Bank Mandiri, museum Bank Indonesia dan yang paling terkenal ya museum Fatahillah. Sebuah gedung yang dulunya didirikan di jaman Hindia Belanda pada abad ke 18 atas perintah Gubernur Jendral Johan Van Hoorn.

Lapangan museum Fatahillah

Lapangan museum Fatahillah

Disini, banyak banget lokasi yang keren buat foto. Dari pintu hijau besar di museum Wayang, sampai meriam dan pohon rindang di lapangannya yang luas. Ada juga gedung kafe batavia yang masih mempertahankan arsitektur kolonialnya dan gedung di sebelah gedung PT. Pos yang tampak seperti reruntuhan gedung yang kena bombardir tentara sekutu.

Kalau bosan, bisa nonton atraksi debus yang dilakukan sekelompok orang di lapangan museum Fatahillah. bisa juga sewa sepeda kumbang seharga dua puluh ribu rupiah selama tiga puluh menit.

Sepeda Kumbang yang siap disewa

Sepeda Kumbang yang siap disewa

Kalau punya sedikit waktu saat akhir pekan tapi bosan di satu tempat, datang ke Kota Tua bisa jadi pilihan yang tepat. Apalagi jika datang di sore hari saat cerah, atmosfernya mengajak kembali ke jaman kolonial.

Pintu Hijau Museum Wayang
Sewa sepeda Rp. 20.000,- / 30 menit

Terbit, tenggelam kemudian terbit lagi…

08 Monday Apr 2013

Posted by maulanadanny in jalan-jalan

≈ Leave a Comment

Tags

bali, batam, cianjur, danau panggang, fajar, holiday, indonesia, jalan-jalan, kalimantan, kepulauan seribu, liburan, Lombok, matahari, pulau bali, pulau lombok, pulau panggang, pulau seribu, senang senang, Sengigi, senja, Sunrise, Sunset, tenggelam, terbit, vacation, vakansi


Lahir di negeri tropis seperti di Indonesia adalah anugerah. Matahari yang bersinar 12 jam setiap hari sepanjang tahun telah menghidupi negeri ini dengan banyak sekali sumber daya alam.

Dan sebagai negeri kepulauan yang dilintasi garis katulistiwa. Saat-saat terbit dan tenggelamnya matahari di setiap sudutnya menampilkan spektrum warna yang magis dan menyihir setiap individu yang memandangnya.

Sepanjang perjalanan liputan saya keliling Indonesia, beberapa kali saya sempat mengabadikan garis-garis indah cahaya matahari yang hendak terbit atau tenggelam. Dan saya ingin berbagi kekaguman julukan dewa Apollo ini dengan anda.

Sunrise

Pantai Utara Pulau Bali
Pantai Selatan, desa Bojong Terong, Cianjur Selatan
Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan
Pintu Utama Gelora Bung Karno, Jakarta
Jogging Track Gelora Bung Karno, Jakarta

Sunset

Pulau Panggang, Kepulauan Seribu
Danau Panggang, Kalimantan Selatan
Palmerah Selatan, Jakarta Barat
Muara Angke, Jakarta Utara
Renon, Bali
Bandung, Jawa Barat
Batam
Pantai Sengigi, Pulau Lombok

Ibadah dalam tarian

02 Tuesday Apr 2013

Posted by maulanadanny in jalan-jalan

≈ Leave a Comment

Tags

bali, baris, budaya, hindu, ibadah, indonesia, liburan, ngayah, pulau bali, rejang, tari bali, tari barong, tari pendet, vacation, vakansi, wisata


IMG_0932Bagi masyarakat Hindu Bali, menari adalah cara untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan yang maha esa atas kenikmatan hidup dan rejeki yang mereka terima di dunia. Atau yang biasa disebut ngayah.

Dalam budaya hindu Bali. Begitu banyak jenis tarian Bali yang sifatnya sakral yang hanya dipentaskan di halaman dalam pura seperti tari Rejang, tari Baris, tari Pendet, tari Sanghyang Dedari, dan tari Barong.

Belum lagi tarian yang dipentaskan di halaman tengah pura seperti tari Gambuh dan Jawa. Semua tarian yang dipentaskan dalam setiap upacara umat Hindu Bali tak lepas dari bentuk ibadah kepada Sang Hyang Widhi.

Menari untuk ngayah harus dilakukan penuh penjiwaan dan sepenuh hati. Agar hal itu bisa terjadi, anak-anak di sanggar tari Lokananta, Singapadu, Gianyar, Bali mulai diajarkan menari sejak usia 5 tahun. Untuk memulainya, sebagai dasar semua tarian Bali anak laki-laki diajarkan tarian baris. Sedangkan anak-anak perempuan diajarkan tarian condong.

Belajar tarian Bali sungguh sulit. Lihat saja ekspresi anak-anak ini saat berlatih. Ada yang membelalakan mata, ada yang memainkan bola mata dan bahkan begitu menjiwai hingga tampak dari raut wajahnya.

Bagi turis seperti saya, melihat anak-anak ini menari sangat menghibur. Dan yang lebih hebat lagi, tidak ada satupun anak-anak yang berlatih disini tampak menyesal.

Meskipun banyak tarian Bali yang dimodifikasi untuk tujuan turistik. Namun melihat anak-anak di sanggar Lokananta ini menari dengan antusias, saya tidak khawatir tarian Bali asli yang hanya dipentaskan pada saat upacara akan hilang dalam waktu dekat.

← Older posts

Blog at WordPress.com. Theme: Chateau by Ignacio Ricci.

Cancel