Tags
cerita pendek, cerpen, fiksi, kisah cinta, perpisahan, surat cinta
Sayangku Mona,
Langit akhir februari masih kelam. Sinar matari seolah tak mampu menembus mega yang kian bertumpuk menutupi bumi. Seperti hatimu yang kian mendung merambati waktu. Seolah mega yang meliputi hatimu menolakku tuk terus menghangatkanmu.
Tujuh hari berlalu sejak itu. Komunikasi kita makin tersendat. Entah apa penyebabnya. Aku kian bertanya pada hati yang nelangsa. Enggan bertanya langsung tuk jaga hati lembutmu tetap ceria.
Aku bukan orang yang mudah curiga, sayang. Kau tahu itu. Namun apa yang aku rasa saat ini, terlalu kuat menyakiti hingga tak mampu ku abaikan lagi. Kau berubah sejak senin malam itu.
Kisah cinta kita yang mesra dan ceria sehari sebelumnya, seolah terjun tanpa seutas tali pun ke jurang tanpa dasar. Jatuh, terus jatuh secepat asteroid habis terbakar sebelum menyentuh bumi.
Tapi aku tidak ingin berkisah tentang sendu. Setidaknya belum. Duduklah yang tenang, sayang. Aku akan mulai berkisah tentang awal kita mengikat cinta.
***
Sejak kita nonton bareng, seolah ada tembok yang tak boleh aku tembus. Meski ingin ku kian besar, namun kau tak mengizinkanku tuk bertamu lagi. Hingga kisah kita yang tak sampai satu paragraf pun, tersapu badai waktu.
Setahun kemudian kita ditemukan lagi di bab kehidupan. Dimulai dari musim hujan di akhir desember. Tangan takdir bekerja dengan teknologi, menghangatkan kembali hubungan kita.
Perlahan, waktu memberikan dukungannya. Atmosfer semesta mendekatkan kita yang tengah nelangsa ditinggal cinta. Awal Januari, pena mulai kehabisan tinta. Kewalahan mencatat rasa saling suka diantara kita yang lebih cepat dari rotasi bumi. Dan kita pun terpisah sementara!
Harus ada sekat waktu yang ikut campur. Karena rindu yang pantas dikenang, adalah rindu yang terletak diantara harapan dan kepastian. Kamu harus keluar kota, sebagaimana naskah takdir menuliskannya.
Hingga kita bertemu lagi di tengah Januari. Rindu bekerja dengan baik. Harapanmu dan harapanku kian bertumpuk dan meninggi menyentuh lapisan terluar hati, hendak merobeknya dan menjadi satu. Di hari ke 18 itu kita mengikat hati tanpa lisan yang terucap dan saksi yang menatap. Hanya dinding beku yang menyaksikan ciuman pertama kita.
Diantara hari yang berlalu. Ada ciuman yang tersisa dan harapan yang bertambah. Kita ada dalam satu energi, hasrat dan rasa sayang. Rasanya aku ingin menyebarkan kabar baik ini pada dunia secepatnya. Namun katamu dunia belum siap menerima kisah cinta kita.
“Banyak cinta yang sedang ditonton oleh dunia saat ini. Cinta kita yang baru ini mungkin akan diacuhkan olehnya. Jika waktunya tepat, mari kita umumkan bersama. Tapi saat ini, cukup kisah ini hanya kita yang nikmati.”
Baiklah sayang, biarkan ini berjalan dengan semestinya di lantai waktu. Toh, di akhir babak pertama akan ada pemicu yang membuat dunia berpaling ke kita.
Lima enam minggu berlalu. Dunia masih sibuk dengan cinta yang lama. Kisah kita mulai masuk babak ke tiga. Kesimpulan dari keseluruhan kisah. Dan Kau sang penulis naskah, memutuskan cinta ini harus diakhiri. Kenapa?
“Aku belum putus dengan kekasih lamaku. Dan dia mulai mengetahui hubungan kita dari teman dekatmu.”
Mendengar suaramu yang lembut mengatakan hal itu seperti bungee jumping dengan tali yang rapuh. Hatiku terjun bebas tanpa pengaman. Dan kau pun terlihat rapuh dibalik senyum kecutmu.
Dan disinilah aku sekarang. Kantung mata makin membengkak.
Bukan sayang, bukan karena memikirkan dirimu yang menyedihkan. Hatiku kini lega tak terikat. Aku lebih banyak waktu mendekati mimpi. Dan lihatlah, penyesalanmu akan melebihi penyesalan Caesar karena tertipu hati pada Cleopatra.
Yang pernah singgah di hatimu,
Johan.
***
Danny Maulana, 19 Februari 2012
Sound like a real love story.. Nice words dannio.. Mungkin bukan mona. Mona lg sibuk sama yg lain
Mungkin memang kisah nyata pu. Ato mungkin juga fiksi. Who knows? Hihihihihi
I think what you published was very reasonable. But, consider this, what if you added a little content? I mean, I don’t want to tell you how to run your blog, however what if you added a title that grabbed people’s attention? I mean Surat untuk Mona | is kinda vanilla. You ought to peek at Yahoo’s front page and note how they write article titles to grab people to open the links. You might add a video or a related picture or two to grab readers interested about everything’ve written. Just my opinion, it would bring your website a little livelier.
Dapet banget ni kisah! keren. ampe langsung tertegun dan nyesek bacanya, :’(
Hehehehe terima kasih