Tags

, , , , , , , , , , , , , , ,


“Sesaat lagi kita akan mendarat di bandara Sentani, Jayapura. Silahkan kembali ke tempat duduk anda, tegakan sandaran kursi anda dan kenakan kembali sabuk pengaman anda.”

***

Selamat datang di Jayapura

Selalu ada perasaan sentimentil ketika datang kembali ke Jayapura, Papua. Kota kecil yang terhimpit diantara topografi berbukit dan pantai selalu mempesona dengan beragam budaya dan tentu saja tempat wisata yang tak ada habisnya. Seperti intan, makin diasah Jayapura makin indah seperti berlian.

Ini kali ketiga saya mengunjungi tempat kelahiran saya sejak 2007 lalu. Ongkos yang mahal dan jarak yang sangat jauh dari Jakarta membuat saya berpikir dua kali untuk mengunjungi Jayapura setiap waktu.

Teluk Yotefa

Setelah mendapat ijin cuti dari kantor, tanggal 5 september 2010 dini hari, saya sudah ada di terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Saya memilih penerbangan pukul 5 pagi. Selain lebih murah, lebih baik tiba disana saat matahari masih semangat, bukan?

Ada beberapa maskapai nasional yang melayani penerbangan dari Jakarta menuju Jayapura. Jalur transitnya pun berbeda-beda. Saya memilih maskapai Lion Air karena saat itu saya dapat harga murah. Jakarta-Jayapura Rp. 1.450.000,- juga hanya sekali transit di bandara Sultan Hassanudin, Makassar, Sulawesi Selatan.

***

2,5 jam Jakarta-Makassar, 30 menit transit, 3,5 jam Makassar-Jayapura, akhirnya pesawat Boeing MD-90 mendarat kasar di landasan pacu yang lumayan pendek di Bandara Sentani, Jayapura. Hal baiknya adalah, akhirnya kaki yang malang ini bisa direnggangkan juga. Hal buruknya, saya kehilangan Ipod Nano dan Headphone Philips dari tas ransel yang dimasukkan ke bagasi. Setelah melapor petugas maskapai setempat, ia hanya mampu membuatkan surat kehilangan untuk laporan ke kantor pusat dan berspekulasi panjang lebar dan makin membuat kesal.

Matoa

Sebaiknya datang ke Jayapura selain bulan ramadhan. Kota yang tingginya kurang lebih 1 meter diatas permukaan laut tentu saja punya limpahan cahaya yang banyak sekali dari matahari. Semenit saja anda berdiri diluar ruangan pukul 9 pagi, pasti sudah keringatan seperti yang saya alami saat ini. Namun, saya datang di musim berbuah Matoa. Buah yang konon endemik ini dijual disetiap sudut kota. Tak tanggung, satu kilo buah matoa harganya Rp. 50.000,-! Daging buah ini bentuknya seperti buah rambutan. Rasanya campur aduk dari durian, lengkeng dan rambutan. Yang pasti, rasanya manis sekali. Jangan rakus makan buah ini kalau tidak ingin radang tengorokan tiga minggu kemudian seperti nasib saya.

Pantai Dok 2

Waktu kecil dulu, saya sering main ke pantai Dok 2. Pantai di depan kantor Gubernur Jayapura ini yang paling ramai dikunjungi tiap sore dan akhir pekan. Selain paling dekat dari kota, pantai ini pun gratis untuk siapa saja. Maklum, di pantai lain seperti Base G ada tariff masuknya.

Tidak ada yang berubah dari pantai yang lama saya tinggalkan. Garis pantainya dipisahkan oleh bangunan pemantau cuaca milik BMKG. Sebelah kanan, penuh batu karang, pecahan beling dan pasir pantai yang kasar. Di sebelah kirinya, tak ada batu karang sama sekali. Tapi justru jarang ada yang berenang disitu.

Anak-anak bermain di pantai dok 2

Dari pantai ini, telihat dua pulau kecil yang terlihat seperti benteng yang menjaga kota Jayapura. Uniknya, dua pulau yang berdekatan ini dihuni oleh penduduk yang menganut keyakinan beragama yang berbeda. Pulau yang ada menara berbentuk salib dihuni penduduk beragama Kristen. Pulau disebelahnya dihuni penduduk beragama islam. Dan hebatnya, sejak saya lahir hingga kini tak pernah mendengar dua pulau tersebut saling serang karena perbedaan itu. Mereka hidup rukun dalam perbedaan.

Ada beberapa hal yang berubah. Hotel Aston dan Swiss-Bell hotel telah berdiri disini. Café-café eksklusif pun mulai berani ekspansi bisnisnya jauh dari Jakarta. Namun bioskop satu-satunya disini, Bioskop Imbi yang terletak di taman Imbi telah lama tutup karena bangkrut.

Pasar tradisional di lapangan parkir toko.

Tidak cukup satu minggu liburan kota paling ujung timur Indonesia. Banyak sekali pantai indah disini, bukit-bukit untuk melihat landscape Jayapura. Dan juga, matahari terlihat lebih besar disini. sayang saya terlalu malas untuk bangun pagi dan mengambil gambarnya.

Festival Sentani. Festival tahunan ini kini menjadi andalan dinas pariwisata setempat untuk menarik turis lokal dan mancanegara untuk datang kesini cukup menjanjikan untuk kemajuan pembangunan kota. Namun ada kekecewaan yang saya rasakan. Pantai Dok 2 yang tidak berubah, harga makanan yang mahal, dan tariff masuk lokasi wisata yang tidak wajar menjadi beberapa hambatan yang mungkin bisa dibenahi lebih baik lagi. Dan yang pasti, jika harga tiket pesawat lebih murah lagi. Jayapura tidak lagi menjadi sekedar kota tujuan impian.

Foto-foto Jayapura: http://www.flickr.com/photos/beatdacore/sets/72157624841389503/

About these ads