Larantuka yang ramah


Perjalanan saya ke Larantuka pada tanggal 30 sampai 6 november 2011adalah perjalanan tugas terakhir saya di Trans TV. Sungguh perjalanan yang sangat jauh, melelahkan dan menyenangkan.

Saat itu, saya dan rekan lainnya membuat film documenter seorang dokter dari Jawa yang bertugas selama satu tahun disana. Seorang wanita muda dari suku yang berbeda tinggal selama di tempat asing tentu punya banyak kisah menarik.

Karena Larantuka berada di pulau Sumba di provinsi Nusa Tenggara Timur, kami harus menggunakan dua pesawat yang berbeda. Dari Jakarta, kami berangkat pukul 6 pagi menuju Denpasar, Bali dan terbang lagi menggunakan pesawat yang lebih kecil pukul satu siang. Karena jam transit yang tanggung, terpaksa lima jam hanya melihat orang datang dan pergi di bandara Ngurah Rai, Denpasar.

Tiba di bandara Frans Seda di kota Maumere matahari sudah bergeser jauh ke arah barat. Sedangkan kami harus menempuh empat jam perjalanan ke arah timur pulau Sumba. Atas saran supir, kami pun menginap semalam sambil membeli berbagai macam perbekalan.

***

Di hari kedua kami langsung tancap gas menuju Larantuka. Sebuah kota yang disebut-sebut Vatikan di Asia. Mayoritas Katolik taat yang ramah hidup dengan damai bersama agama minoritas lainnya. Sungguh Indonesia yang sesungguhnya.

Seperti kata supir, perjalanan ke Larantuka bukan perjalanan mudah. Selain jalannya yang berliku, juga penuh lubang dan perbaikan hingga kami harus sesekali berhenti untuk beristirahat. Dan pukul dua siang, kami pun tiba di rumah dinas dr. Indra.

dr. Indra Widi Sari Dewi tinggal di desa Waimana sejak enam bulan yang lalu. Disini ia bertugas di sebuah puskesmas untuk melayani pasien dari beberapa desa tetangga. Sungguh diluar dugaan, desa ini penuh dengan orang-orang yang sangat ramah khas Indonesia timur. Penuh senyum, saling sapa dan bahkan mengajak mampir untuk makan malam bersama. Jauh berbeda dengan sifat individual orang-orang kota seperti di Jakarta.

Betapa beruntungnya kami, di hari kami tiba adalah hari penutupan bulan Maria. Yaitu bulan dimana semua masyarakat Katolik melakukan acara misa khusus untuk bunda Maria. Sungguh perayaan yang meriah dan sangat berbeda dari tempat lainnya di dunia.

***

Tiga hari lamanya kami tinggal di rumah dinas dr. Indra di desa Waimana. Banyak hal yang menarik mulai dari kehidupan masyarakat lokal, budaya dan kebiasaan hidup. Karena desa ini letaknya di pinggir pantai, kami selalu makan ikan segar dan menikmati matahari terbit setiap pagi. Sungguh kehidupan yang sempurna bagi orang kota.

Setelah selesai merekam kisah dr. Indra, kami kembali ke Maumere. Karena masih ada sisa dua hari di sebelum kembali ke Jakarta, semua tim ingin ke danau Kalimutu. Danau tiga warna yang legendaris di kabupaten Ende.

Danau kalimutu sebenarnya merupakan kawah hasil letusan besar ribuan tahun yang lalu. Isinya bukan air, melainkan belerang. Warna yang berubah-ubah itu masih merupakan misteri bagi sebagian besar peneliti. Menurut mitos, tiga warna itu (hijau, merah, hitam) adalah tempat arwah leluhur bersemayam. Warna tersebut melambangkan usia dan perbuatan leluhur semasa hidupnya. Tapi kini, danau tersebut tidak lagi tiga warna. Dua danau pertama berwarna hijau muda, dan danau yang letaknya paling tinggi tetap berwarna hitam pekat.

Jika ingin membawa oleh-oleh dari pulau Sumba, beli lah kain tenun yang dibuat oleh para pengrajin lokal seperti yang dijual disini. Karena pembuatannya cukup lama, harganya pun cukup mahal. Sehelai kain dengan lebar tiga puluh centimeter dan panjang satu meter bisa seharga enam puluh ribu rupiah.

***

Perjalanan ke pulau Sumba merupakan penutup tugas saya di Trans TV selama empat tahun terakhir. Banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang saya dapat selama bertugas di Trans TV. Bertemu orang-orang yang berbeda, mendatangi berbagai macam tempat eksotis di Indonesia dan tentu saja, kekeluargaan diantara sesama kru Trans TV tidak bisa diganti oleh apapun.

Tapi hidup terus berjalan. Dan kebutuhan akan pengalaman baru di tempat lain akan menambah kualitas hidup. Setidaknya bagi saya pribadi.

Ini bukan rokok!!


ImagePukul 05.00 WIB. Suara salam terakhir dari imam mengakhiri ibadah sholat subuh di masjid dekat sana. Lampu jalan berwarna jingga redup redam kekurangan daya listrik. Simpang lima itu mulai ramai oleh motor tukang sayur, karyawan yang pulang lembur, pengantar surat dan tukang ojek. Kelap-kelip lampu mobil lalu-lalang dari seberang jalan. Garis-garis tipis air dari langit menurunkan suhu yang sudah cukup dingin. “Cling..!” Suara tutup pematik api dibuka dan sedetik kemudian asap rokok menyelimuti wajah pria kurus berkacamata itu.

 

Suara-suara parau supir angkutan kota berlomba memanggil calon penumpang yang tak acuh. Dari bawah tiang lampu lalu lintas, seorang pria bertubuh pendek kekar berjalan mendekat. Kedua kakinya tak kompak saat itu. Seolah berjalan di dek kapal yang terombang-ambing hebat di tengah lautan lepas. Seorang kawan lainnya terbaring liar di bawah tiang lampu itu. Antara tertidur pulas atau pingsan kehabisan napas. Entahlah.

 

“Heeiii !! Heeiii lu!”

 

“L..lu…luu manggil gw bang?”

 

“Iya elu tolol! emang gw manggil setan di sebelah lu? Bagi rokok lu!”

 

“Udah habis bang…”

 

“Ngga percaya gw, pelit lu!”

 

“Beneran bang, ini rokok terakhir gw…”

 

Pria yang terkapar liar di bawah tiang lampu lalu lintas mulai bergerak lemah. Dan terkapar lagi sedetik kemudian.

 

“Tuh yang nyempil di saku belakang lu, apaan? Bungkus rokok kan?!”

 

“Isinya bukan rokok bang…”

 

“Bangsat! Pelit amat sih lu ama gw!”

 

“Sumpah bang, kalo masih ada gw kasih ke elu…”

 

“Mana sini gw liat”

 

“Jangan bang, ini bukan rokok…”

 

“Eh, babi! Mana sini gw liat!!”

 

“Lu ngga akan suka isinya bang…”

 

“Emang isinya apaan? Gele? Makin seneng gw kalo isinya gele! Sini bagi gw!”

 

Seorang ibu bertubuh tambun berjalan tergopoh-gopoh membawa dua kantung plastik besar berisi sayur dan daging berteriak memanggil tukang ojek.

 

“Bukan bang…”

 

“Emang isinya apaan?!!!”

 

“Ini penis orang yang perkosa cewek gw sebulan kemarin bang. Mau gw bawa pulang buat makan anjing gw…”

 

Suara sirene dari kejauhan mendekat dengan cepat dan menjauh lagi lebih cepat. Suara teriakan tukang ojek yang bertengkar di kejauhan dan akhir ayat surat Al Ikhlas dari toa masjid mengembalikan atmosfer pagi itu.

 

Jakarta, 6 April 2012.

 

Danny Maulana.

Lombok yang ini dan yang itu


Anak-anak desa Wajageseng, Lombok Tengah.

Seharusnya kisah ini saya posting sebelum perjalanan saya ke Sibolga. Tanggal 7 sampai 14 september 2011 lalu. Saya dan tim Pengabdian Trans TV, datang ke pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat untuk liputan tentang sebuah desa di Lombok Tengah yang jauh dari sarana kesehatan.

Tiba di Mataram pukul 1 siang. Saya dan Fitri Faroziati (reporter) bertemu Ari Diatmika (admin @infolombok) dan pak Parhan, kepala desa Wajageseng kecamatan Kopang, kab Lombok Tengah untuk pre-interview tentang kondisi desa yang akan kami datangi setelah ini.

Tuak putih

Dua jam perjalanan melewati sawah dan kebun kangkung dari Mataram ke Lombok Tengah cukup melelahkan. Apalagi ketika memasuki desa Wajageseng, jalanannya masih bolong disana sini. Sampai di rumah pak Parhan, kami dihidangi tuak putih. Wah, ini minuman baru untuk saya. Syukurnya tuak ini tidak mengandung alkohol sama sekali. Rasanya seperti air kelapa yang dicampur gula. Dijamin wajah langsung mengkerut kecut ketika meminumnya. Tapi gelas tuak yang saya habiskan tak terhitung jumlahnya hahahaha. Setelahnya kami langsung jalan kaki ke lokasi liputan. Ternyata tidak jauh! Dari jalan utama desa dengan rumah-rumah penduduk yang sudah permanen, hanya sekitar 500 meter jalan kaki melewati kebun bambu dan pohon aren. Continue reading

5 second films


Dari judulnya aja udah ngga masuk akal. Mana ada film yang bisa bercerita dengan durasi lima detik? Tiga orang gila dari Hollywood ini bisa! Di vimeo.com mereka membuat channel 5-Second Films (http://vimeo.com/channels/fives) yang menampilkan film-film super pendek. Dan hebatnya, dalam lima detik mereka bisa membuat sebuah cerita super singkat dengan teknik jump cut. Hasilnya? Dalam lima detik, anda bisa tertawa, sedih, ketakutan bahkan kesal dengan endingnya.

Well, selamat menonton.

Buddha Boy


Ini kisah tentang kekuatan spiritual. Dimana kebutuhan dasar manusia seperti makan dan minum bisa dikesampingkan untuk tujuan yang lebih luhur. Penyucian jiwa dan impian akan nirwana.

Ram Bahadur Bomjon, a.k.a Palden Dorje (nama monastic) dan berubah menjadi Dharma Sangha lahir 9 april 1990 di Kampung Ratanapuri, Distrik Bara, Nepal. Adalah seorang anak yang disebut-sebut titisan Budha. Setidaknya, begitulah menurut beberapa pengikutnya. Namun Ram sendiri menolak anggapan itu. Menurutnya dan beberapa ahli, penganut Budha setuju bahwa Budha telah bersemayam di nirwana dan tidak bisa lahir kembali sebagai manusia.

Ram memulai fenomenanya pada 16 mei 2005. Ia bermeditasi lebih dari 10 bulan tanpa makan dan minum sedikitpun. Beberapa ahli yang diwawancarai oleh Discovery Channel mencoba mencari berbagai macam penjelasan tentang kekuatan fisik Ram, namun hingga kini jawabannya sendiri masih samar.

Dokumenter tentang Buddha Boy di Discovery Channel bisa ditonton via Youtube. Film yang dibagi menjadi lima seri diupload oleh akun Buddhaboyvideos pada 17 november 2008. Meskipun film ini telah lewat 3 tahun, namun tetap menarik untuk disimak.

Lanjutan serinya : Buddha Boy 2 | Buddha Boy 3 | Buddha Boy 4 | Buddha Boy 5